Diary

Bebek Diantara Monyet

Orang-orang akan melihatmu ketika kamu sendiri dan berbeda. Seperti tokoh-tokoh opera. Mereka nampilin tokoh utama mereka dengan berbeda. Pakaiannya beda. Make up juga beda. Karakter beda. Beda deh pokoknya. Meski diiringi banyak dayang-dayang yang bajunya sama. Tapi tokoh utama selalu kelihatan berbeda.

Atau sama seperti halnya di kebun binatang. Ketika di situ ada kumpulan monyet. Lalu ada seekor bebek di situ. Tuh bebek beda sendiri. Dan fokus mereka secara gak langsung bakal fokus tertuju ama si bebek. Dan ngomong, “Ngapain bebek jelek di sono tuh?” Gue juga gak ngerti ngapain tuh bebek di sana.

Masalahnya gue bukan tokoh opera di sini dan baju gue sama aja ama mereka. Gak ada yang menarik. Gue juga merasa kelihatan sama aja. Dan kayaknya gue juga gak ada di sekumpulan para monyet. Entahlah. Siapa yang tahu sosok mereka sesungguhnya.. ‘-‘) Eh. Bukannya bermaksud ngatain mereka kaya monyet. Gak tau kalo ngerasa sendiri.. ‘-‘)

Mungkin gue di sini sebenarnya juga berperan sebagai monyet. Mungkin mereka nganggep monyet kaya gue tuh gak mirip monyet. Kenapa gue gak mirip monyet? Ya karena gue monyetnya!

Et dah! Jadi gue tuh monyet atau bebek si? Enggak kedua-duanya. Karena gue itu cipus.
Et dah! Makin gak nyambung aja.

Intinya gue risih. Apa gue bertampang kriminal yang patut dicurigai. Hingga mereka nyurigai gue adalah orang yang nyolong sendal jepit mereka.

Atau mereka menatap gue karena wajah gue yang mirip sama member ke 10 SNSD. Et dah. SNSD aja orangnya cuma 9. Ya. Gue anggota SNSD yang terbuang.

Gue sama sekali gak beda ama mereka. Meski gue gak make baju seragam semacam anak sekolahan. Tapi baju gue punya nama yang sama kaya baju mereka.

Udah biasa sebenarnya kaya gini. Tapi kali ini entah pengen aku ungkapin aja.

Diary

Itik yang Beruntung

Aku hanya seekor itik. Itik yang beruntung. Mungkin.

Kupikir itik ini hanya punya daya yang rendah. Untuk berhadapan dengan singa-singa liar yang lapar. Tapi bagaimana dengan ini?

Itik pernah dipandang singa oleh beberapa orang. Dan itu lucu. Ada yang salah dengan mata mereka. Kenapa harus takut pada seekor itik seperti dia? Untung mereka segera menganggap angin lalu.

Tapi disemester ini. Angka bebek itu muncul lagi. Aku tak menyangka. Sungguh.

Diam dekat tembok. Kadang-kadang tertidur. Melamun. Bicara sendiri. Punya ‘kerja sama’ yang lumayan tinggi. Kurang aktif. Ulangan dapat nilai kursi. Dan blah blah blah blah blah. Benar-benar payah. Pantas itik ini mendapatkan tertawaan dari mereka.

Itik ini terlalu bodoh untuk ini. Ini bahkan kurasa tak adil. Meski itik ini tak dirugikan.
Bagaimana dengan yang lain?

Tapi Tuhan berkata lain. Itik babo ini tetap diberi bebek. Meski terlihat tak adil. Tapi siapa yang tahu apa keadilan itu. Itik yang beruntung. Benar-benar beruntung.

Saat itu, itik ini percaya bahwa hadiah dari orang percaya adalah melihat apa yang dia percayai. Dan itik ini melihatnya. Sungguh. Itik ini benar-benar beruntung.