Diary

Itik yang Beruntung

Aku hanya seekor itik. Itik yang beruntung. Mungkin.

Kupikir itik ini hanya punya daya yang rendah. Untuk berhadapan dengan singa-singa liar yang lapar. Tapi bagaimana dengan ini?

Itik pernah dipandang singa oleh beberapa orang. Dan itu lucu. Ada yang salah dengan mata mereka. Kenapa harus takut pada seekor itik seperti dia? Untung mereka segera menganggap angin lalu.

Tapi disemester ini. Angka bebek itu muncul lagi. Aku tak menyangka. Sungguh.

Diam dekat tembok. Kadang-kadang tertidur. Melamun. Bicara sendiri. Punya ‘kerja sama’ yang lumayan tinggi. Kurang aktif. Ulangan dapat nilai kursi. Dan blah blah blah blah blah. Benar-benar payah. Pantas itik ini mendapatkan tertawaan dari mereka.

Itik ini terlalu bodoh untuk ini. Ini bahkan kurasa tak adil. Meski itik ini tak dirugikan.
Bagaimana dengan yang lain?

Tapi Tuhan berkata lain. Itik babo ini tetap diberi bebek. Meski terlihat tak adil. Tapi siapa yang tahu apa keadilan itu. Itik yang beruntung. Benar-benar beruntung.

Saat itu, itik ini percaya bahwa hadiah dari orang percaya adalah melihat apa yang dia percayai. Dan itik ini melihatnya. Sungguh. Itik ini benar-benar beruntung.