Uncategorized

Kalau Kamu Berani, Mereka yang Akan Takut

Ini berawal dari angkot. Ya tahulah kendaraan itu.

Aku selalu jaga jarak ama itu kendaraan. Mereka suka ngerem mendadak naik seenaknya. Nikung seenaknya. Sakitnya tuh disini.
Tapi ya aku juga sebenarya terima kasih banget kalau naik angkot. Itu ya lumayan cepet. Yang lama itu nunggu penumpangnya. Buset. Harus penuh gitu?

Cepetnya angkot mah ya grasak grusuk gitu. Sruduk sana sruduk sini. Yang di dalem palingan cuma terombang-ambing. Tapi yang di luar deg-degan broh. Andai aja aku bisa baca pikiran tuh supir angkot.
Ketakutan aku ama angkot berawal ketika aku naik motor berada di belakangnya. Angkot itu melaju dengan kencang. Hingga tiba-tiba dia berhenti mendadak. Untung aku gak ngelamun. Selain itu aku juga pernah dipepet. Abis itu ketika aku pengen nyalip. Eh. Dia ikutan cepet. Hingga dari arah berlawanan muncul kendaraan lain lagi. Anjay~

Apa lagi percakapan angkot satu ke angkot lainnya itu. Enggak. Mobilnya gak bicara kok. Tapi supirnya. Entah dalam rangka apa mereka omong-omongan. Dan aku pernah berada diantaranya. Aku berada diantara kalian.

Aku… tak mengerti. Mengapa ini semua harus terjadi? Lupakan aku. kembali padanya. Aku bukan siapa-siapa.. untukmu..?*nyanyi*

Mereka ngendarai tuh angkot serasa jalan ini milik mereka berdua. Yang lain cuma numpang. Tega banget.
Abis itu angkot juga suka ngambil jalan seenaknya. Mereka abis nurunin penumpang biasanya langsung capcus tanpa lihat spion. Mungkin melihat kebelakang begitu menyakitkan bagi itu supir angkot. Mungkin pak supir itu lagi berusaha move on, jadi dia udah gak mau lihat ke belakang lagi.

Aku kalau balik ke Malang atau pulang ke Blitar biasa buntuti orang yang miliki ciri sama kayak aku. Ya biasanya aku milih yang plat nomor kode daerahnya sama. Pura-puranya aku temennya dia. Gak tahu dia nganggep aku atau enggak. 😦 *syedih* Oke. Gak papa. Gak dianggep udah biasa buat aku. Eh. Ini bangga atau harus syedih yak?

Kemarin aku buntuti mas-mas. Tapi gak tahu kenapa dia berusaha ninggalin aku. Dia terus melaju kencang. Bahkan semakin kencang. Mungkin berusaha lari dariku. ._.

Tega banget.

Okay. Gak gitu. Ini karena akunya yang lelet dan lemot.

Aku pun terus mendekatinya. Hingga sampailah memasuki Kacuk. Jalanan rada macet. Angkot mulai berjubelan. Aku mulai kehilangan dia. *buset dah*
Aku terus mencoba mencari jejak-jejaknya. Mengikuti racing line yang telah ia cetak kasat mata. Hingga munculah angkot yang mulai kurang ajar. Mulai memisahkan kami.

“Apa yang harus aku lakukan?” ucapku pada diriku sendiri. *kenapa jadi mellow gini?*

Dia terus menerjang angkot itu. Angkotnya yang minggir. Dia sudah berlalu. Meninggalkan aku yang karam dibalik angkot.

Aku mengamati orang-orang yang dengan berani membalap angkot itu. Sebenarnya jika kita yang berani, tuh angkot yang jadi takut. Aku mencoba memberanikan diri. Dan benar. Dia memperlambat lajunya.

Tapi mungkin jika aku ragu-ragu. Mungkin tuh angkot yang seenak jidat.

Sebenarnya kalau kita berani, mereka yang akan takut. Itulah pelajaran yang aku petik kemarin.

Yang penting berani. Tapi tahu diri juga.

Jangan berani langsung salip, terus tuh angkot menggonggong j*nc*k, seperti yang biasa orang-orang ini lakukan.
Tetep hati-hati juga…

Iklan