Sesuatu

Bersyukur

Beberapa orang tidak tahu diri. Termasuk mungkin itu juga aku. Kerjaannya cuma meratapi. Berterima kasih kalau ingat saja, seperti di kala melihat orang lain kurang beruntung, baru merasa kalau diri ini beruntung. Kurang ajar. Tidak sopan.
Beberapa orang juga sok-sokan bersyukur, kemudian di saat yang sama kemudian membicarakan kesialannya. Meraih simpatisan agar kasihan. Hingga merasa orang-orang membicarakan bahwa hidup itu tak adil.

Apa sih bersyukur? Menurut KBBI V, syukur adalah sebuah rasa terima kasih kepada Tuhan. Bagaimana cara menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan? Banyak. Tapi yang paling sederhana adalah dengan mengucap terima kasih pada diri sendiri. Pernah kah?

Brahman Atman Aikyam, Brahman atau Tuhan itu manunggal dengan Atman. Tuhan dan kita adalah tunggal. Di dalam diri kita ada Tuhan. Tuhan ada di mana-mana, termasuk dalam diri ini. Tuhan ada dalam diri kita, tapi kita bukan Tuhan, dan jangan sekali-kali menuhankan diri kita. Itu benar-benar tidak tahu diri pangkat tak hingga, jadi kamu harus menghitungnya dengan limit. Ya begitulah, jangan tanya itu berapa, aku tak menyukai kalkulus.

Continue reading “Bersyukur”

Iklan
FIKSI

Topik Sensitif

Hari ini Tini mengobrak-abrik semua barang-barangnya. Ini bukanlah sebuah keputusan untuk bosan menjadi rapi. Bukan juga dengan tujuan untuk merapikannya kembali nanti. Ya. Biasanya orang-orang berdalih, ‘tidak apa-apa, nanti kita mulai dari awal lagi.’
Seperti saat kamu ingin mengisi bensin dan kamu ingin mengisinya lagi, tapi bensinmu masih banyak dan kamu memutuskan untuk berputar-putar hingga bensinmu habis. Ya. Petugas POM bensinnya ganteng.

“Belum ketemu juga?” tanya Wini pada Tini.

Tini menggeleng. Biti yang gak tahan melihat keporak-porandaan ruangan tersebut bertanya pada Wini, “Apa sih yang sebenarnya sedang dicari?”

Wini menggeleng, “Nggak tahu.”

Continue reading “Topik Sensitif”

Diary

Sadar Suc.. Sadar..

“Kamu sudah sampai mana Suc?”

Pertanyaan itu menggema ditelingaku. Sebuah pertanyaan yang dilontarkan seseorang. Bukan. Tapi banyak orang. Rasanya dia sudah masuk dalam gendang telinga. Berdengung-dengung dan mau keluar.

Keluar sebagai tindakan nyata. Ekspetasinya begitu.

“Aku? Aku? Aku belum nyampek mana-mana.” jawabku mencoba santai. Tepat saat pertanyaan itu dilontarkan, aku selalu mencoba berpikir, aku akan mulai mengerjakan hal itu hari ini. 

“Sumpah Suc proposalmu?”

“I.. iya.”

“GILAK. Gilak kamu Suc!”

Continue reading “Sadar Suc.. Sadar..”

FIKSI, Super Junior

Takdir

Aku menghitung mereka. Dulu, jari-jari tanganku tak sanggup menghitung mereka. Bahkan kadang ada seseorang yang terselip dan aku mengingatnya dengan sekuat tenaga. Sekarang, ketika aku menghitungnya dengan mudah, aku merindukan saat dimana jari-jariku tidak cukup untuk mengabsen mereka.

Aku melihat Hyukjae berlatih keras. Donghae juga begitu. Yang lainnya juga begitu. Heii.. bukan kah aku sendiri juga berlatih keras? Melihat mereka seperti ini, membuatku tambah semangat.

Heechul belum datang, mungkin dia masih lelah karena hari ini dia mengisi sebuah acara. Anak itu memang multitalenta. Aku selalu kagum melihat dia mempraktekkan dance dari girl band yang terbilang seksi. Untungnya aku masih normal dan tidak ngilu.

Continue reading “Takdir”

Diary

Jahat

Ada yang lebih jahat dari Stromboli. Dia kadang bisa diajak kerja sama. Bisa diajak bersenang-senang. Dia tokoh yang baik dan juga bisa paling jahat.

Aku memandangi jempolku. Kukuku tidak terlalu bagus. Semakin kamu memotongnya, batas daging dan kuku akan semakin dalam. Ya. Seperti itu. Tapi aku sedang tidak mengkhawatirkan kuku.

Hari ini ya.

Hari ini aku mendatangi kantor itu pagi sekali. Aku tak mau ketinggalan. Apalagi diulur-ulur macam kemarin. Tapi, yang ada aku malah menemui OB yang bersih-bersih. Pagiku keterlaluan kah?

Continue reading “Jahat”

Diary

Berubah

Awalnya gini, dua hari yang lalu, aku berangkat pagi buat minta transkrip. Lalu, jeng jeng, “Pelayanan transkrip untuk jurusan Kimia dimulai pada pukul 14.30 WIB.”

Okelah ya. Gak papa. Aku bisa ngelab dulu. 

Lalu pukul 16.00 WIB berlalu, dan aku baru nyadar itu artinya udah tutup. Oke lah ya. Gak papa besok.

Kemudian besoknya aku inget jam itu, jadi ya gitu, aku nanti aja ke sana. Lalu, jeng jeng, ngelab gak bisa ditinggal. Jadi aku mutusin untuk ke sana hari ini. Oke lah ya.

Hari ini aku ngelab dulu, tapi cuma bikin larutan. Aku harus berterimakasih pada dewa matahari karena waktu aku tidak melakukan penyinaran, hari ini mendung. Besok-besok kalau aku ngelab, jangan mendung yak… :))

Continue reading “Berubah”

Sesuatu

Es

Es memang dingin tapi keras. Dia marah-marah hanya karena aku panas. Sudah ku bilang untuk menuangkannya hati-hati. Tapi dia memaki.

Dia bilang cobalah kau tiru es, dia menyegarkan. Aku muak.

Lalu ku bilang padanya tentang amandel, lalu dia diam. Dia bilang padaku tentang sariawan lalu ku panggil jeruk.

Sayangnya jeruk lebih memilih Joshua dan berteman dengan es. Aku memang selalu sendiri. 

Sendiri itu pahit. Itulah mengapa aku berteman dengan kopi.

Lalu jeruk? Sepertinya dia menyesal ditertawakan oleh Joshua.