Bertanya pada Waktu

Aku bukan jadi subjeknya. Aku hanyalah objek. Subjekya waktu. Subjek atas berbagai pertanyaan kapan. Si objek ini tidak tahu. Dia hanya berserah pada Sang yang memberi warna cabe. Ya. Begitu. Si subjek ini bicara lewat aku, dan aku menjawabnya dengan senyum. 

Kapan………..?

Ya. Kapan? Hmmm.

Jika kalian bertanya kapan ini dan itu. Jangan tanyakan jawaban pasti padaku. Aku bahkan tak tahu. Apakah besok matahari masih terbit di sebelah timur dengan sinarnya yang terlihat menawan atau tidak. Ku bilang terlihat. Matahari memang selalu menawan. Tapi, kadang-kadang tertutup awan. 

Jadi, tanyalah pada sang waktu, biar senyumku mewakilinya. Mewakili setiap keresahan atas pertanyaan-pertanyaan yang kalian lontarkan. Lalu ku jadi kepikiran dengan kata kapan yang lama-lama jadi beban.

Ah. Biarkan aku makan jajan ini dengan tenang..

Pecah.

Ku pikir mungkin aku sedang bercanda. Ku pikir itu lucu. Tapi tidak.

Pecahkan saja gelasnya, biar ramai.’

Tidak. Tidak seramai itu. Aku. Aku yang bingung.

Aku bilang aku lelah. Tapi aku tak tahu harus bilang pada siapa. Pada sini dan situ. Lalu apa? Tak ada. Tak ada perubahan. Aku tetap di sini, sama saja.

Ku bilang pada diri sendiri, jangan sembarangan curhat pada orang. Jangan menunjukkan air matamu pada orang sembarangan. Kau boleh begitu saja berlinang air mata untuk sebuah drama, tapi untuk kehidupanmu sendiri, jangan.. Beberapa orang bisa saja menganggapnya lucu dan membuatnya terlihat seperti lelucon. Ya. Aku tersinggung. Untuk orang yang berusaha terlihat selalu baik-baik saja dan kuat. Lelucon seperti itu sama sekali tidak lucu.

Aaarrghh..

(lebih…)

Gunung Legendaris

Aku bertanya kepada Cho, perihal kenapa matahari terbit diantara dua gunung pada gambar legendaris anak SD ini. Bentuknya sangat khas. Bahkan temanku dulu harus menggunakan penggaris untuk menggambar gunung ini. Katanya biar lurus. Dia pikir mendaki gunung bakal semulus itu.

gambar-dua-gunung-waktu-sd

“Itu karena gunung menutupi langit di belahan sana.”

Apa? Apa hubungannya? Jika ini adalah sebuah FF bergenre romantis, mungkin aku sudah mempoutkan bibir manja, sayangnya ini adalah tulisan tidak jelas yang entah jatuh darimana. Mengenai air lalu sering nyebar kemana-mana. (lebih…)

Tim Roket

38fa8e99ae36658427e618358a435db3

Rambut birunya berkibar terkena angin. Dia seakan melambai padaku untuk datang mendekat. Aku mendekat padanya. Menanyakan wajahnya yang tiba-tiba damai itu. Biasanya semangatnya begitu menggebu-gebu. Entah kenapa dia kebanyakan diam sedari tadi.

“Apa yang kamu pikirkan? Ini seperti bukan kamu.” tanyaku padanya.

“Rasanya aku sudah lelah. Aku ingin menyerah,” jawab Kojiro padaku.

“Kamu menyerah dengan si kuning-kuning itu?” tanyaku lagi.

“Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk mendapatkannya.” jawabnya. “Kita selalu berhenti pada akhir yang sama. Terbuang.”

(lebih…)

Ada-ada. Ada apa sih? ._.

Beberapa orang berpura-pura bahwa dirinya tegar dan kuat. Tapi yang lainnya kadang ingin terlihat lemah agar dikasihani. Aku merasa pernah melakukan semuanya. Haha.

Ada juga yang merasa sok gak bisa. Seperti ketika ditanya, ‘apakah kamu bisa mengerjakan nomor ini?’. Lalu menjawab tak bisa. Tahu-tahu nilainya sudah A. Lalu dia klarifikasi dengan ini adalah keberuntungan. Tuhan memang baik.

Ada juga yang emang udah gak bisa. Lalu ketika kuis, dia bisa jawab semua. Temannya heran. Dikira dia sok gak bisa. Dia mencoba mengklarifikasi, tapi si dianya gak percaya. Lalu beberapa detik tertawa semuanya menyadari kebodohan mereka sendiri. Gak ada yang lebih indah daripada menertawakan diri sendiri. Belum ada hal yang menyaingi kenikmatan itu.

Eh. Ada sih. Senyummu. Ayayaya. Memandangnya saja ku sudah bahagia.

(lebih…)

Esok Kan Bahagia

Percayalah padaku, ini bukan minuman rasa-rasa.

Ini bukanlah minuman serbuk rasa anggur yang tidak sengaja diseduh di gelas kimia. Ini bukanlah hal yang senikmat itu. Apalagi di bulan puasa yang membuat mata ini semakin kreatif saja bayangin apapun.

Kemarin aku percaya dengan larutan ini akan mengakhiri kegalauanku selama beberapa waktu. Aku menggantungkan diri penuh pada larutan ini. Ini udah kayak jadi oksigen ke dua setelah atom yang berikatan rangkap tersebut. Aku pikir semua akan baik-baik saja.

‘Kayaknya yang ini bakal berhasil deh..’

(lebih…)