FIKSI

Tim Roket

38fa8e99ae36658427e618358a435db3

Rambut birunya berkibar terkena angin. Dia seakan melambai padaku untuk datang mendekat. Aku mendekat padanya. Menanyakan wajahnya yang tiba-tiba damai itu. Biasanya semangatnya begitu menggebu-gebu. Entah kenapa dia kebanyakan diam sedari tadi.

“Apa yang kamu pikirkan? Ini seperti bukan kamu.” tanyaku padanya.

“Rasanya aku sudah lelah. Aku ingin menyerah,” jawab Kojiro padaku.

“Kamu menyerah dengan si kuning-kuning itu?” tanyaku lagi.

“Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk mendapatkannya.” jawabnya. “Kita selalu berhenti pada akhir yang sama. Terbuang.”

(lebih…)

Ahimsa

Ahimsa artinya tidak menyakiti atau tidak membunuh. Mengajarkan kepada kita anti kekerasan dan saling mengasihi.

“Eh. Cho lihat. Anak itu menyiksa kucing sampek marah. Kurang ajar banget gak sih?” seruku sambil menunjuk anak kecil tidak sopan itu. Dia mengerjai kucing itu sambil menarik-narik ekornya hingga membuat kucing itu marah dan kesal. 

“Eh. Mana sih? Eh. Iya yak. Wah. Wah.” kata Cho setelah melihat pelaku utama dan korban yang hanya bisa mengeong. 

Cho mendatangi anak tersebut. Entahlah. Mulutnya berkomat-kamit banyak sekali. Semoga dia tidak sedang menyanyikan lagu ‘Mbah Dukun’ miliknya Alam. Aku cuma takut anak kecil itu disembur. 

(lebih…)

Aku Ditipu?

“Apa kamu tahu bahwa kamu bisa saja sedang ditipu?”

“Tipu?”

“Ya.. Tak ada yang pernah tahu dan kamu mempercayainya begitu saja.”

Aku berhenti mengerjakan reaksi-reaksi gila ini. Benarkah aku ditipu? Tapi mungkin saja.

Orang-orang di sini gemar menyebut nama-nama atom. Atom ini, atom itu. Berikatan dengan ini. berikatan dengan itu. Membentuk reaksi ini, membentuk reaksi itu.

Beberapa mungkin ada benarnya. Tapi beberapa mungkin hanya karangan. Seperti yang kita tahu, teori lama hadir untuk dipatahkan. Sama seperti pengertian atom yang terus berganti hingga beberapa generasi, dari teori atom Dalton yang masih berupa bola pejal, hingga yang sudah ada bumbu-bumbu kuantum.

“Kenapa kamu berpikir seperti itu Cho? Kamu anggap apa penelitian-penelitian yang mereka lakukan?” tanyaku pada Cho tidak terima. Cho seakan bilang apa yang aku lakukan adalah hal yang sia-sia.

(lebih…)

Kawan Berlari

Ini tentang berlari, tapi bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai.

“Apa kau sepayah itu dalam berlari?” tanya Cho sekaligus meledekku yang sedang ngos-ngosan.

Sebenarnya tidak ada target untuk siapa yang lebih dulu sampai atau seberapa cepat berlari. Aku yang terlalu memaksakan diri mengimbangi orang itu. Hidungku sepertinya sudah besar untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Entah kenapa aku payah sekali untuk hal semacam ini.

Aku menemukan pantatku dengan aspal. Mempertemukan mereka dengan hati-hati. Mungkin mereka saling rindu. Biarlah mereka bertukar sapa dahulu. Mungkin beratnya napasku juga gara-gara mereka. Dasar. Kalau kangen ya ngomong.

Aku melihat Cho yang biasa-biasa saja. Tidak ada tekanan apapun. Tidak ada acara mangap-mangap buka mulut biar udara yang masuk makin banyak. Aku yang kebanyakan acara.

Anjay. Begitu santainya.

(lebih…)

Dua Kelinci

Aku tidak sedang membicarakan kacang atom. Aku tak tahu kenapa namanya kacang atom. Mungkin karena kacangnya kebanyakan kuntet, jadi kecil kacangnya kayak atom. Haha. Gak lucu sebenernya.

Aku tanya pada Cho tentang apakah kita bisa mengejar dua kelinci sekaligus. Cho diam, terlihat berpikir, lalu menggeleng. Aku juga jadi diam. Gak bisa ya?

“Apa kau sudah punya kandang?” Tanya Cho kepadaku. Aku menggeleng.

“Itu lebih susah. Kamu tidak boleh serakah. Fokuslah. Itu lebih membuatmu bahagia.”

Aku mengangguk. Aku kembali terdiam oleh sebuah pilihan-pilihan di depan mata.

(lebih…)

Bawang Merah dan Bawang Putih

Pernahkah berpikir mengenai sebuah pertanyaan, seperti ini, “Apakah bawang merah benar-benar jahat?”

Hari ini Cho bertanya padaku, “Apa kau percaya bahwa bawang merah benar-benar jahat?” Dan aku dengan enteng menjawab iya.

Cho tersenyum dan berkata, “Tapi aku suka bawang merah, apalagi kalau ditabur di atas soto. Apa kau masih tega menjawab iya?”

“Iya. Tapi bawang merah pernah membuat Squidword menangis.”

Ngelantur. Oke.

(lebih…)

Lolipop

Dia bilang aku harus memilih. Semuanya baik, kurasa mereka semua harus mendapat bagian. Aku benar-benar bingung harus memilih siapa dan mengorbankan siapa.

“Apa aku harus benar-benar memilih?” Tanyaku pada orang itu. 

“Tentu saja. Kau harus pilih sesuatu. Ini tidak bisa seenak udel pindah dari mulut ke mulut.”

Anak-anak itu semuanya baik. Dia bilang aku harus memilih untuk memberikan lolipop ini. Dan sepertinya semua anak di sini juga menginginkan permen ini.  (lebih…)