Diary

Gigi Dua

Gigi dua adalah tempat terbaik untuk memulai dan berbahagia. Kenapa? Karena Spongebob giginya dua!

Proposalmu Suc, Proposalmu!

Hmmm. Hmmm. Hmmm.

Jangan perkuat M, Malesmu. Bekukan malesmu dengan S yang besar, maleS. Lalu akhiri dengan tanda titik dan tampar dirimu berkali-kali sampai kamu merasakan merdunya suara Andyca Rindu Band menyanyikan lagu Iwak Peyek pake nasi putih yang ternyata itu adalah beras plastik tiruan, buatan China. Dan kamu hanya diam saja dengan malesmu. Lalu kamu menyadari satu hal, APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN UNTUK NEGARA INI?

Hmmm. Berat juga ini proses. 😂

Continue reading “Gigi Dua”

Iklan
Diary

Sadar Suc.. Sadar..

“Kamu sudah sampai mana Suc?”

Pertanyaan itu menggema ditelingaku. Sebuah pertanyaan yang dilontarkan seseorang. Bukan. Tapi banyak orang. Rasanya dia sudah masuk dalam gendang telinga. Berdengung-dengung dan mau keluar.

Keluar sebagai tindakan nyata. Ekspetasinya begitu.

“Aku? Aku? Aku belum nyampek mana-mana.” jawabku mencoba santai. Tepat saat pertanyaan itu dilontarkan, aku selalu mencoba berpikir, aku akan mulai mengerjakan hal itu hari ini. 

“Sumpah Suc proposalmu?”

“I.. iya.”

“GILAK. Gilak kamu Suc!”

Continue reading “Sadar Suc.. Sadar..”

Diary

Jahat

Ada yang lebih jahat dari Stromboli. Dia kadang bisa diajak kerja sama. Bisa diajak bersenang-senang. Dia tokoh yang baik dan juga bisa paling jahat.

Aku memandangi jempolku. Kukuku tidak terlalu bagus. Semakin kamu memotongnya, batas daging dan kuku akan semakin dalam. Ya. Seperti itu. Tapi aku sedang tidak mengkhawatirkan kuku.

Hari ini ya.

Hari ini aku mendatangi kantor itu pagi sekali. Aku tak mau ketinggalan. Apalagi diulur-ulur macam kemarin. Tapi, yang ada aku malah menemui OB yang bersih-bersih. Pagiku keterlaluan kah?

Continue reading “Jahat”

Diary

Berubah

Awalnya gini, dua hari yang lalu, aku berangkat pagi buat minta transkrip. Lalu, jeng jeng, “Pelayanan transkrip untuk jurusan Kimia dimulai pada pukul 14.30 WIB.”

Okelah ya. Gak papa. Aku bisa ngelab dulu. 

Lalu pukul 16.00 WIB berlalu, dan aku baru nyadar itu artinya udah tutup. Oke lah ya. Gak papa besok.

Kemudian besoknya aku inget jam itu, jadi ya gitu, aku nanti aja ke sana. Lalu, jeng jeng, ngelab gak bisa ditinggal. Jadi aku mutusin untuk ke sana hari ini. Oke lah ya.

Hari ini aku ngelab dulu, tapi cuma bikin larutan. Aku harus berterimakasih pada dewa matahari karena waktu aku tidak melakukan penyinaran, hari ini mendung. Besok-besok kalau aku ngelab, jangan mendung yak… :))

Continue reading “Berubah”

Diary

Dora dan Rambutku

Percaya gak sih istilah benci jadi cinta? Hmmm. Gak langsung cinta juga sih sebenernya, tapi bisa jadi perhatian berlebih, lalu timbul pemakluman atas kebencian itu. Hingga pada suatu titik kamu menemukan sesuatu, oke juga ya ternyata, suka deh.

Pembukaannya pasti gak nyambung kok. Jangan heran. Wkwkwk.

Dora

Aku punya hobi potong rambut. Yap. Aku memotong rambutku sendiri. Karena, dulu pernah dipotong orang lain tapi gak sesuai ekspektasi. Lalu aku mulai memotongnya sendiri dan berujung gak bagus-bagus amat juga. Wkwkwk. Tapi ada satu hal, kepuasan dalam diri gak bisa diukur lewat nilai. Bagus adalah sebuah nilai yang punya standar dan tiap orang beda. Sedangkan puas itu berasal dari rasa.

Continue reading “Dora dan Rambutku”

Diary

Sesak



Seperti pertemuan yang dipaksakan antara kancing baju dan lubangnya. Bisa aja sih dipaksain ngait, tapi kalau gak sesuai lubang juga lepas. Kalau ukurannya gak pas juga sesak. Lalu kenapa terus dipaksakan? 

Berhentilah. Gantilah baju lain.

Kita gak cocok.

Diary

Memenuhi Target Luaran

Agenda hari ini adalah memenuhi target luaran yang tidak tercantum di proposal dan tidak perlu dicantumkan di laporan akhir. 

Kilas Balik

Kita pasti pernah lelah. Pernah merasa bosan. Pernah merasa ingin menyerah. Pernah ingin merasa melarikan diri. Pernah merasa marah dan tidak tahu diri. Bodoh dan tidak tahu apa itu memaknai pemberian Tuhan. Kalau kalian tidak pernah, mungkin aku saja manusia yang bodoh dan tidak tahu diri itu.

Akhirnya, kemarin, kami MONEV eksternal. Kelompok kami tidak mengharapkan PIMNAS, sama sekali tidak. Untuk bisa selesai saja kami sudah bersyukur. Cukup tanda tangan kehadiran dan sudah menyelesaikan penelitian kami. Sesederhana itu. Tidak muluk-muluk.

Continue reading “Memenuhi Target Luaran”