Diary

Memenuhi Target Luaran

Agenda hari ini adalah memenuhi target luaran yang tidak tercantum di proposal dan tidak perlu dicantumkan di laporan akhir. 

Kilas Balik

Kita pasti pernah lelah. Pernah merasa bosan. Pernah merasa ingin menyerah. Pernah ingin merasa melarikan diri. Pernah merasa marah dan tidak tahu diri. Bodoh dan tidak tahu apa itu memaknai pemberian Tuhan. Kalau kalian tidak pernah, mungkin aku saja manusia yang bodoh dan tidak tahu diri itu.

Akhirnya, kemarin, kami MONEV eksternal. Kelompok kami tidak mengharapkan PIMNAS, sama sekali tidak. Untuk bisa selesai saja kami sudah bersyukur. Cukup tanda tangan kehadiran dan sudah menyelesaikan penelitian kami. Sesederhana itu. Tidak muluk-muluk.

(lebih…)

Si Punggung Merah Lagi

Si baju merah tadi ku lihat lagi. Duduk di tempat yang sama. Posisi yang sama. Punggung yang terlihat sama. 

Ku pikir dia sudah pergi ke utara. Hasil stalkingku menyatakan dia akan ke utara. Tapi ternyata belum, mungkin akan.

Ku pikir rasa yang dulu telah hilang. Ternyata dia masih ada. Wkwkwk.

Rasa penasaran. Penasaran yang ingin sekali dibuktikan. Bagaimana kenyataan sebenarnya.

Ini kaya berusaha membuktikan bahwa bumi datar itu benar-benar ada. Dasar.

Tapi, siapa tahu kalau memang ada? Kita harus menerima perubahan bukan? Hidup yang dinamis ini, cara pandang orang pasti macam-macam. Saling mengerti saja, jangan memaksakan diri.

Atom yang gak kelihatan saja sudah berganti teori beberapa kali. Kenapa tidak memberi kesempatan pada bumi yang maha luas ini?

Tapi, sungguh, bumi itu bulat.

Lhoh ngotot? Katamu saling mengerti.

Aku sedang memberi pengertian. Wkwkwk.

Si punggung berbaju merah masak sih ke sini lagi? Pasti itu fatamorgana. Iya.

Hmmm.

Dasar. Beberapa hal memang gak bisa diprediksi. Hipotesis hanyalah praduga. Jangan mengada-ada. Terima dan nikmati saja.

Duh.. berapa lama ya kamu di sini? 

Bakso

Anggap saja ini tentang bakso.

Mungkin penjual yang dulu jadi favorit kita sudah terlalu tua, hingga kamu jadi kurang suka. Lalu kamu bilang ke yang lain kalau giginya sudah ompong lalu setiap dia biacara ada kuah yang juga ikut keciprat sana-sini. Lalu kamu mulai memaki mereka dan bilang mereka tidak mau berubah seperti yang lain. Mereka tidak peduli katamu. Dan kamu menyebar gosip itu ke sana dan ke sini.

Atau mungkin kamu sebenarnya suka bakso yang lain, tapi kamu sudah langganan di sini dan teman-temanmu sudah lama kenal bahwa kamu sudah langganan di sini. Kamu malu untuk mengakui. Kamu merasa tidak enak. Kamu merasa perlu menghancurkan warung ini agar kamu merasa tidak bersalah. Kamu malu kalau kamu langsung pindah haluan ke warung lain.

Kalau kamu tidak suka. Langsung saja pindah. Jangan menghujat. Apa tujuanmu? Mereka sudah lemah. Bukan kah kamu bilang mereka sudah tua? Oke. Anggap saja begitu. Lalu bisa apa mereka? Apa mereka ancaman untuk bakso barumu? Apa? Gak ada kan? 

(lebih…)

Bertanya pada Waktu

Aku bukan jadi subjeknya. Aku hanyalah objek. Subjekya waktu. Subjek atas berbagai pertanyaan kapan. Si objek ini tidak tahu. Dia hanya berserah pada Sang yang memberi warna cabe. Ya. Begitu. Si subjek ini bicara lewat aku, dan aku menjawabnya dengan senyum. 

Kapan………..?

Ya. Kapan? Hmmm.

Jika kalian bertanya kapan ini dan itu. Jangan tanyakan jawaban pasti padaku. Aku bahkan tak tahu. Apakah besok matahari masih terbit di sebelah timur dengan sinarnya yang terlihat menawan atau tidak. Ku bilang terlihat. Matahari memang selalu menawan. Tapi, kadang-kadang tertutup awan. 

Jadi, tanyalah pada sang waktu, biar senyumku mewakilinya. Mewakili setiap keresahan atas pertanyaan-pertanyaan yang kalian lontarkan. Lalu ku jadi kepikiran dengan kata kapan yang lama-lama jadi beban.

Ah. Biarkan aku makan jajan ini dengan tenang..

Pecah.

Ku pikir mungkin aku sedang bercanda. Ku pikir itu lucu. Tapi tidak.

Pecahkan saja gelasnya, biar ramai.’

Tidak. Tidak seramai itu. Aku. Aku yang bingung.

Aku bilang aku lelah. Tapi aku tak tahu harus bilang pada siapa. Pada sini dan situ. Lalu apa? Tak ada. Tak ada perubahan. Aku tetap di sini, sama saja.

Ku bilang pada diri sendiri, jangan sembarangan curhat pada orang. Jangan menunjukkan air matamu pada orang sembarangan. Kau boleh begitu saja berlinang air mata untuk sebuah drama, tapi untuk kehidupanmu sendiri, jangan.. Beberapa orang bisa saja menganggapnya lucu dan membuatnya terlihat seperti lelucon. Ya. Aku tersinggung. Untuk orang yang berusaha terlihat selalu baik-baik saja dan kuat. Lelucon seperti itu sama sekali tidak lucu.

Aaarrghh..

(lebih…)

Ada-ada. Ada apa sih? ._.

Beberapa orang berpura-pura bahwa dirinya tegar dan kuat. Tapi yang lainnya kadang ingin terlihat lemah agar dikasihani. Aku merasa pernah melakukan semuanya. Haha.

Ada juga yang merasa sok gak bisa. Seperti ketika ditanya, ‘apakah kamu bisa mengerjakan nomor ini?’. Lalu menjawab tak bisa. Tahu-tahu nilainya sudah A. Lalu dia klarifikasi dengan ini adalah keberuntungan. Tuhan memang baik.

Ada juga yang emang udah gak bisa. Lalu ketika kuis, dia bisa jawab semua. Temannya heran. Dikira dia sok gak bisa. Dia mencoba mengklarifikasi, tapi si dianya gak percaya. Lalu beberapa detik tertawa semuanya menyadari kebodohan mereka sendiri. Gak ada yang lebih indah daripada menertawakan diri sendiri. Belum ada hal yang menyaingi kenikmatan itu.

Eh. Ada sih. Senyummu. Ayayaya. Memandangnya saja ku sudah bahagia.

(lebih…)

Esok Kan Bahagia

Percayalah padaku, ini bukan minuman rasa-rasa.

Ini bukanlah minuman serbuk rasa anggur yang tidak sengaja diseduh di gelas kimia. Ini bukanlah hal yang senikmat itu. Apalagi di bulan puasa yang membuat mata ini semakin kreatif saja bayangin apapun.

Kemarin aku percaya dengan larutan ini akan mengakhiri kegalauanku selama beberapa waktu. Aku menggantungkan diri penuh pada larutan ini. Ini udah kayak jadi oksigen ke dua setelah atom yang berikatan rangkap tersebut. Aku pikir semua akan baik-baik saja.

‘Kayaknya yang ini bakal berhasil deh..’

(lebih…)