SUCISU

Ya, begitu, tetapi bukan seperti itu.

Tikus Putih

9 Komentar

Tikus putih melihat dengan sedih tikus hitam yang sedang berlarian. Iri? Entahlah. Dia bukannya sedih melihat tikus hitam yang berlarian bebas, dia hanya sedih kenapa dia masih berada di tempat ini. Dia sedih untuk keadaannya sendiri, bukan kebahagiaan orang lain.

Tikus putih yang terasingkan. Dia hanya sendirian dalam kotak sempit itu. Dia tidak kelaparan, ini bukan soal makan. Makanan dan minuman tersedia dengan baik. Minggu ini dia harus sehat.

Tikus hitam yang baru saja kehilangan semua anggota keluarganya itu melihatnya dari kejauhan. Tikus putih yang sendirian itu berada di kotak paling pinggir. Dia sendirian karena saat disonde tadi siang, dia terus berontak. Kukunya menancap pada sarung tangan si penyonde. Dia yang lemah dan sakit, terpaksa kehilangan kukunya dan darah segar keluar banyak. Ya. Kasihan sekali tikus putih yang sakit itu.

“Kenapa kamu melawan?” tanya tikus putih yang lain.
“Aku tidak ingin hidup seperti ini,” jawabnya. Benar. Tikus putih yang sendirian ini muak hidup seperti ini.
“Kalau kamu menurut kamu tidak akan terlalu tersakiti,” kata tikus putih itu iba.

Benar, tidak ada yang salah dari kata terlalu ini. Kenapa? Karena memang mereka tersakiti. Yang membedakan adalah terlalu sakit atau sakit yang biasa.

Tikus putih yang penurut itu memang selalu disayang oleh si peneliti. Dia tidak menyusahkan. Tidak pernah berontak dan mengikuti alur. Siapa yang tidak sayang dia adalah orang yang tidak tahu diuntung. Kepasrahan dia membawa dia pada kenyamanan. Berdamai dengan rasa sakit. Berdamai dengan diri sendiri memang membahagiakan.

Tikus yang sendirian ini dipisah karena peneliti takut kalau darah yang keluar akan membuat tikus lain ingin menggigit kakinya. Mengisolasinya pada tempat khusus adalah solusinya. Membiarkannya tersekap sendirian agar si penurut yang lain tetap menjadi dirinya sendiri.

“Kamu kenapa?” tanya tikus hitam datang mendekat. Dia melihat di tempat tikus putih itu banyak makanan. Tikus putih hanya diam. Dulunya saat pertama masuk tempat ini, tikus putih akan bercicit dan berteriak pada apa dan siapa saja untuk membebaskannya. Sekarang dia sudah lelah dengan kesia-siaan itu. Tidak berguna, membuang-buang tenaga.

Apa itu racun? Pikir tikus hitam dalam hati.

Tikus hitam menatap makanan dan tikus putih itu secara bergantian. Itu adalah hal yang paling sedih dimana kamu tidak bisa melarikan diri dari racunmu sendiri. Tikus putih menyadari bahwa tikus hitam sedari tadi menatap makanannya.

“Itu makanan, kamu ingin?”
“Apakah beracun?”
“Tidak.”
“Kenapa tidak kamu makan?”
“Sudah kenyang, jatahku lebih banyak karena aku sendirian.”

Tikus hitam melirik kotak lain yang juga berisi tikus putih. Semuanya memiliki makanan yang banyak. Air yang juga banyak. Ini seperti surga. Semua tersedia tanpa kamu harus mencari.

“Kamu sakit?”
“Semuanya sakit, kecuali kotak yang paling ujung sana.”
“Kamu tertangkap?”
“Aku menjalankan tugas.”

Tikus hitam teringat anaknya yang baru saja mati karena diracun. Kotak-kotak tersebut mengingatkannya karena tikus hitam itu meletakkan anaknya di dalam kotak.

“Aku baru saja kehilangan keluargaku. Semua diracun. Hidup dengan ketidakpastian ini membuatku frustasi. Enak, ya, hidup seperti kamu. Makan enak, terjamin. Tidak perlu berlari-lari, bersusah payah dan berebut dengan yang lain.”

Tikus hitam bersedih. Mengingat anaknya, mengingat keluarganya. Tikus putih juga ikut sedih mendengarnya.

“Aku malah ingin hidup seperti kamu. Apa yang aku inginkan adalah aku sendiri yang tentukan. Hidupku penuh kepastian. Ya. Makan, minum dan meja bedah. Aku pasti mati, bahkan ketika aku baru saja sembuh. Kau tahu bagaimana rasanya ketika kamu baru saja tumbuh kemudian disakiti, disembuhkan kemudian dihilangkan? Aku takut. Aku ingin melarikan diri.”

Tikus hitam kaget mendengar ceritanya. Dia pikir, tikus putih ini seperti kucing yang dikurung yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Hidup dengan kepastian yang menyedihkan juga tidak enak.

“Hah..” tikus hitam menghela napas. “Apakah kita harus bernyanyi bersama?”
“Aku tidak bisa bernyanyi.”
“Aku juga tidak bisa.”

Keduanya kemudian tertawa. Menertawakan keadaannya masing-masing.

“Bagaimana kalau aku mati nanti?” tanya tikus putih pada udara.
Tikus hitam yang mendengarnya menyahut, “Kau hanya tidak bernapas.”

Keduanya tertawa lagi. Menertawakan sesuatu yang tidak lucu.

“Setidaknya kamu mati dengan rasa bangga, kamu berguna, sedangkan aku terbuang,” kata tikus hitam.

“Iya, juga. Tapi, kamu juga harus bangga, kematianmu kamu sendiri yang memilih, makan racun atau tidak makan. Bukankah menyenangkan memilih kehidupanmu sendiri? Enak, ya, kamu. Hahaha.”

“Kamu sudah berani meledekku, ya. Dasar. Hahaha.”

Keduanya tertawa kembali. Semuanya memang pantas ditertawakan. Kali ini lebih keras. Agar kesakitan, kekhawatiran dan kesedihan yang selama ini mereka rasakan malu, kemudian pergi karena tiada teman.

Iklan

Penulis: Suci Su

Sudah, Nak! Terkadang apa yang tidak kau bicarakan lebih bernilai daripada yang kau bicarakan. - Eugene Crab (Spongebob Squarepants)

9 thoughts on “Tikus Putih

  1. Kenapa tikus putih dan hitam tidak bersyukur saja? Wkwk😀

  2. Sedih ternyata kehidupan tikus yak. Sepertinya kita perlu meninjau ulang metafora ‘tikus berdasi’. Kasian tikus-tikus itu. 😢

  3. Agak ngeri karna tulisan ini mengangkat tikus jd tokoh utama, tapi aku suka banget, soalnya jd lebih mahamin sesuatu yg ga aku suka

  4. ho.o hikmahnya harus diambil, bersyukur :) Nice

  5. sambil baca sambil kepikiran tidur depan rumah yg lewat 😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s