SUCISU

Ya, begitu, tetapi bukan seperti itu.

Tikus Hitam

2 Komentar

Kita tidak tahu betapa berartinya sesuatu setelah mengalami rasa kehilangan. Penyesalan dan rasa ingin memutar balikan waktu terus menghantui. Berandai-andai jika begini atau begitu namun itu semua telah tiada arti.

Rasa sesal itu terus mengutuk tikus hitam yang sedang memandangi tempat yang biasanya dia gunakan untuk tidur bersama anak-anaknya. Seseorang telah mengambil kebahagiannya ketika masa terindahnya baru saja dimulai.

Semua terjadi begitu cepat. Terlalu cepat hingga seperti terasa bahwa dia sedang bermimpi.

Beberapa hari yang lalu suami tikus hitam itu meninggal karena racun dan hari ini keenam anaknya menghilang tidak berada pasa tempatnya. Tikus hitam tentu saja tidak bisa berpikir positif. Anaknya tidak mungkin masih hidup. Kecil sekali kemungkinan itu. Siapa yang akan memelihara beberapa ekor tikus hitam yang setiap hari mencuri sebagian hasil panen mereka dengan penuh kasih sayang? Tidak ada. Kecuali, mungkin jika orang itu sungguh kesepian.

Ya.

Kalian tahu kan banyak kucing manis di luar sana? Untuk apa memelihara tikus hitam.

Keseimbangan ekosistem? Yang benar saja. Siapa yang mau memikirkan itu semua.

Tikus hitam itu meninggalkan tempat dimana dia biasa bersarang. Tempatnya hari ini bersih, ini membuatnya tidak nyaman. Mungkin ini seperti orang lain menata ulang kamarmu dan kamu tidak tahu letak-letak barang yang biasa kamu gunakan. Semua jadi terasa asing.

Lagi pula berada di tempat ini membuatnya sakit hati. Mengingat kenangan-kenangan masa lalu di sini membuatnya semakin sedih. Membuatnya marah. Tikus hitam yang sedih memutuskan akan meninggalkan tempat ini.

Di luar rumah tikus hitam bertemu dengan seekor tikus hitam yang lain. Dia terlihat lebih menyedihkan daripada tikus hitam yang sedih tersebut. Fisikinya buruk dan benar-benar seperti tikus kelaparan. Tikus yang menyedihkan.

“Masuklah ke dalam, kau terlihat menyedihkan,” kata tikus hitam yang baru kehilangan anaknya itu. Sebenarnya, wajah sedihnya tidak pantas berkata seperti itu.

“Tidak mau. Banyak jebakan di sana,” kata Tikus hitam yang kurus itu.

“Orang-orang sialan itu memang tidak bisa berbagi.”

“Kita memang tak pantas.”

“Hee. Kau ini tikus. Apa kau manusia yang mencoba menginvasi dunia tikus dengan melakukan penyamaran? Untuk apa membelanya?”

“Apa kau mabuk?” tanya tikus menyedihkan itu.

Tikus yang baru kehilangan anaknya diam saja. Malas. Malas berdebat pada suasana duka ini. Dia teringat kenangan bersama anak-anaknya yang bahkan belum sempat memiliki bulu. Badannya yang mungil meronta-ronta. Bercicit sepanjang hari.

“Aku baru saja kehilangan anak-anakku. Aku sudah mencari ke mana-mana dan mengobrak-abrik semuanya. Tapi, yang kutemukan hanyalah perasaan sesal dan bersalah. Aku sebenarnya marah pada diriku sendiri. Aku terlalu bodoh dan lalai.”

“Kamu menyimpannya di tempat yang nyaman, tapi tidak aman. Wajar saja mereka membuangnya.”

“Ya, aku menyesal. Aku terlalu bahagia melihat mereka bercicit bahagia di lemari itu, teman-temanku juga senang, tanpa menyadari bahwa itu akan membuat manusia itu tahu bahwa aku beranak.”

“Seharusnya kamu diam. Bawa lari mereka. Pergi sebentar. Menikmati bahagiamu sendiri. Untuk apa menunjukkannya kepada yang lain. Apa bahagiamu butuh pengakuan?”

“Iya. Aku menyesal. Aku marah pada manusia. Tetapi, aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berlarian ke sana dan kemari, tetapi tidak tertawa.”

Ya. Tikus yang sedih tidak akan menyanyikan lagunya Tulus. Dia sedih, bukan kasmaran, lagipula bagaimana cara tikus bernyanyi?

Mereka terdiam. Malam semakin larut. Bulan terlihat tersenyum. Mungkin tikus yang teracuni juga ikut tersenyum. Tidak ada yang tahu kehendak Tuhan. Mungkin tikus yang kurang beruntung itu barangkali bereinkarnasi menjadi lebih baik. Menjalani samsaranya dengan lebih bahagia.

Kucing-kucing malas sudah tertidur. Sebenarnya, kucing sudah tidak terlalu berambisi memburu mereka. Mereka sudah kenyang dan tentunya hidup penuh kasih sayang dari sang pemilik. Mungkin hanya beberapa yang terbuang.

“Lalu kau mau ke mana?” tanya tikus yang menyedihkan kepada tikus yang sedih.

“Aku ingin pindah. Mencoba tempat lain,” jawab tikus yang sedih. “Apa kau mau ikut?”

“Tidak. Aku nyaman di sini,” kata tikus yang menyedihkan. Tikus yang sedih tidak paham, bagaimana rasa nyaman membuatnya terlihat menyedihkan. Jangan bilang dia akan menyebut-nyebut bahwa, kenyamanan tidak terlihat, tapi dirasakan. Malas sekali mendengar ceramah di suasana yang sedih.

“Kau tahu? Di tempat nyaman tidak akan membuatmu berkembang.”

“Tapi, di tempat nyaman kamu bisa tumbuh dan merasa hidup. Tujuan hidup bukan kah hidup dari tujuan itu sendiri? Aku hanya ingin merasa hidup.”

Tikus yang menyedihkan terus saja berkata-kata selayaknya bukan tikus. Sedihnya hilang, tikus yang sedih menjadi sedikit kesal. Dia berharap ada yang menguatkannya bukan menceramahinya.

“Hidup, ya. Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Jangan makan makanan yang disediakan oleh mereka. Semua itu tipuan,” pesan tikus yang sedih sebelum pergi.

“Terima kasih. Jaga dirimu juga. Semua akan baik-baik saja.”

Tikus yang sedih tersenyum. Ini yang dia butuhkan. Sebuah kalimat, baik-baik saja. Berulang kali dia katakan pada diri sendiri kalimat itu, tapi jika yang lain yang mengatakan, beda rasanya. Mengatakannya sendiri pada diri sendiri seperti sebuah penghiburan, jika orang lain yang mengatakan itu seperti harapan yang ingin dia percayai.

Tikus yang sedih dan yang menyedihkan berpisah. Mereka hidup dengan jalan masing-masing dan dengan caranya masing-masing.

Iklan

Penulis: Suci Su

Sudah, Nak! Terkadang apa yang tidak kau bicarakan lebih bernilai daripada yang kau bicarakan. - Eugene Crab (Spongebob Squarepants)

2 thoughts on “Tikus Hitam

  1. Harusnya tikus-tikus yang suka citcitcit di samping rumah membaca tulisan ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s