SUCISU

Ya, begitu, tetapi bukan seperti itu.

Kembang Api

Tinggalkan komentar

‘Dulu, telur sebutir saja dibagi jadi 6 bagian, sekarang anak-anak telur saja sudah bosan.’

Nenek menceritakan masa lalunya lagi. Entah yang keberapa jika diakumulasikan sejak pertama kali aku mendengarnya. Ini seperti peristiwa penting yang semua orang harus tahu.

“Aku bosan kata-kata itu,” bisik Bhakti padaku ketika nenek berbicara tentang hal itu lagi. Aku mengarahkan jari telunjuk ke bibirku, memberi kode agar dia diam. Mode tersopan adalah mendengarkan dengan seksama. Mode terbaiknya ditambah bumbu dapat memetik hikmahnya.

Nenek memberi keponakanku uang saku hari raya, kemudian kami pamit pulang. Senyum nenek mengembang, entah mengapa selalu ada rasa bangga di hati nenek tentang menceritakan kepahitan masa lalu.

“Kenapa harus menceritakan masa lalu ketika kamu sudah hidup di masa sekarang? Masa sekarang punya kesulitannya sendiri, okay?” gerutu Bhakti, tidak seperti namanya, kurasa dia tidak berbakti.

Kembang api sepertinya telah menjadi bagian penyokong tawa Tiko, keponakanku. Dia menyalakan kembang api hari ini bersama Bhakti. Tiko selalu tertawa riang saat melihat Bhakti menyalakannya. Aku tidak tahu dimana sisi seru dan lucunya.

“Kau tahu, Ta? Aku juga bersikap seperti nenek-nenek,” kata Bhakti padaku.

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

Bhakti kemudian duduk di sampingku, mengambil nafas panjang, kemudian berkata, “Aku juga menceritakan masa laluku dan membandingkannya. Aku bilang, aku dulu tidak berharap ada sesuatu yang indah di langit, aku hanya ingin mendengat letupan dari sebuah bambu dan aku sudah senang dengan hanya membawa karbit dan korek api. Kemudian, Pak Senu datang dan memarahi aku dan teman-teman yang lain karena berisik. Aku tidak tahu mana yang lebih seru, letupan dari bambu atau dari Pak Senu. Hahahaha.”

Untuk saat ini, aku juga tidak tahu dimana sisi lucunya.

“Jadi, kamu juga hidup di masa lalu?”

“Pada era asyiknya bermain kembang api model dahulu, aku merasa hidup di masa lalu, untuk kembang api masa sekarang, aku seperti hanya menjalani hidup saja, menemani keponakanmu saja.”

“Lalu apa bedanya? Kamu tidak merasa hidup sekarang ini? Kamu berputus asa?” tanyaku bingung.

“Bukan. Maksudku semua punya masanya masing-masing. Seperti ada rasa wah saat merasa hidup dan rasa aku-dulu-pernah-gitu saat kamu mengulang kisahnya dan kemudian menjalaninya saja.”

“Apa ini seperti sepeda pertamamu? Kau belajar dengannya dan jatuh bangun dengannya, dan sepeda keduamu hanya pelengkap hidupmu sekarang?” tanyaku lagi.

“Mungkin seperti itu juga. Atau bisa juga seperti ini, masa merasa hidup adalah ketika kamu menjadi bagian dari kisahmu dan menjalani hidup adalah masa ketika kamu menceritakan kisahmu.”

“Lalu masa untukmu merasa hidup sekarang ini apa?”

“Ketika aku melihat matamu dan senyummu,”

“Kurasa ini masa gombal untukmu,” ucapku lalu beranjak pergi meninggalkan Bhakti. Aku tidak tahu raut muka Bhakti saat ini.

Aku tersipu. Malu.

Hmmm.

Mungkin kita boleh menyimpulkan dengan cepat untuk sementara. Anggapan kadang perlu dibuat lebih cepat agar kita bisa bertindak. Tetapi, kesimpulan terakhir adalah sebuah keputusan, menguatkan atau menghapus yang awal dan menyimpulkan yang baru.

Aku memilih menghapusnya.

Kurasa Bhakti bukannya tidak berbakti, tadi dia hanya berpendapat. Aku mungkin terlihat seperti berusaha membelanya, tetapi memang itu kenyataannya, aku membelanya. Haha.

Aku pikir masa merasa hidupku yang akan datang adalah menjalani kisah dengan Bhakti. Menjalani hidup meletup-letup dengan semangat seperti kembang api.

Hmmm.

Ya. Kurasa aku kejauhan. Aku lemah terhadap gombalan. Siapapun tolong kuatkan aku.


Sumber gambar: di sini

Iklan

Penulis: Suci Su

Sudah, Nak! Terkadang apa yang tidak kau bicarakan lebih bernilai daripada yang kau bicarakan. - Eugene Crab (Spongebob Squarepants)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s