SUCISU

Ya, begitu, tetapi bukan seperti itu.

Lompatan Elektron

18 Komentar

Elektron berpindah dari orbital satu ke orbital lain dengan memancarkan foton.

Elektron itu pikir, dia akan terbebas setelah berhasil keluar dari orbital ini. Masuk akal juga, aku belum pernah melihat sesuatu yang mengatakan bahwa elektron akan melayang-layang dan tidak tentu arah. Mungkin juga aku yang masih minim ilmu. Tetapi, semua mengatakan bahwa elektron menempati orbital pada sub kulit suatu atom. Ya, semua, tidak kah itu membosankan? Mungkin barang kali kamu ingin menjadi spesial dan menemukan teori lain untukku. Haha.

Bukan kah kamu senang karena terbebas dari sini terlebih dahulu?” tanya sebuah(?) elektron kepada elektron yang akan berpindah tempat. Mukanya datar, dia terbebas, tapi tidak ada alasan untuk senang. Mungkin hanya sebuah perasaan seperti, akhirnya.

Elektron yang akan lolos itu diam. Sedikit mengangkat ujung bibirnya, mungkin ini yang orang-orang bilang dengan tersenyum sedikit atau mungkin sedikit tersenyum. Entahlah.

Energi dengan gelombang tertentu berhasil mengenainya sehingga menyebabkan perpindahan pada pita valensi ke pita konduksi. Mungkin, barangkali mereka-mereka yang ada di sini juga akan melewati hal yang sama. Hanya saja semesta mungkin mendukung elektron ini untuk menempati pita konduksi duluan.

Kamu terlihat biasa saja. Apakah momen seperti ini tidak begitu kamu inginkan?” tanya elektron yang menyadari raut mukanya.

Tidak. Elektron ini bahkan menunggu cukup lama untuk terbebas dari sini. Bagaimana mungkin hal seperti ini tidak begitu dia inginkan? Dia begitu menginginkannya. Bahkan secepat mungkin.

Aku hanya takut. Apa aku bisa bertahan di pita konduksi itu? Bagaimana kalau butuh energi besar? Bagaimana kalau berat seberat rindu?” jawabnya dalam bisu, tidak ingin elektron lain mendengarnya. Cukup dia simpan sendiri meski ingin rasanya berbagi.

Bagaimana mungkin dia bisa berbagi, bahkan mengaku pada diri sendiri saja dia tidak mampu, mungkin tidak tahu. Pertanyaan terberatnya kali ini adalah ,”Apa yang kau mau?”.

Ini seperti mendapat kembalian seratus rupiah dengan uang koin yang belum buluk. Ingin mengabadikannya, antara memilih memfoto burung garudanya atau angka seratusnya. Memilih jalan tengah pun adalah pilihan yang buruk karena hanya akan memperlihatkan sisi tepinya. Bertanya pada riomotret pun tidak penting karena dia hanyalah sebuah elektron.

Kamu hanya perlu menikmatinya. Setiap lompatan-lompatan, setiap energi yang kau butuh dan pancarkan. Nikmati saja,” kata elektron itu pada dirinya sendiri.


Aku pikir, mungkin ini yang menyebabkan data skripsiku kurang bagus. Si elektron merasa terbebani. Ini salahku, harusnya aku memberi semangat dan tidak membiarkannya di laboratorium sendirian sehingga melamun kemudian berpikiran macam-macam dan ketakutan. Mungkin bukan rindu dan badanku saja yang berat, ketakutan elektron ini juga.

Tapi, jangan salahkan gelombang cahayanya, dia tidak tahu apa-apa. Menyalahkan alat adalah sebuah pelarian yang hina. Harus cari teorinya. Tetapi, aku tidak mungkin mengungkapkan apa yang dirasakan elektron ini pada skripsiku. Perasaan bukanlah teori, seperti cinta yang butuh bukti. :”

Berat itu rumusnya massa dikali gravitasi. Jangan tanya aku berapa massa untuk rindu dan takut. Aku tidak tahu juga.

Tanya saja aku, apa ada massalah jika harus jalan denganmu, karena aku akan menjawab dengan tidak massalah, kemudian menggandeng tanganmu.

Hmmm.

Iklan

Penulis: Suci Su

Sudah, Nak! Terkadang apa yang tidak kau bicarakan lebih bernilai daripada yang kau bicarakan. - Eugene Crab (Spongebob Squarepants)

18 thoughts on “Lompatan Elektron

  1. Aku beri tau
    Rindu itu rumusnya jarak ditambah waktu dikali 2
    kenapa dikali dua, karena jarak dan waktu butuh dua kali untuk menyampaikan perasaan antara satu hati ke hati yang lainnya

  2. Astaga, ini tulisan hati yg abstrak namun pnuh isyarat gitu ya, haha…

    Btw, dirimu brgelut dg chemistry dan fisika gitu ya, bhasannya sgla elektron, dan para cs nya itu sih…

    Keren, elektron berpikir..😁

  3. Sucii.. selamatkan elektronmu. Dia tidak boleh menyerah, begitu juga kamu.

  4. Elektron~

    “Kenapa kau ketakutan? Tenang saja, aku di sini melihatmu”, kata elektron yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s