Sesuatu

(masih) Bumi Itu Bulat

Kamu tahu kenapa sila pertama adalah Tuhan Yang Maha Esa?’

Aku tidak langsung menjawab. Di bayanganku pertama muncul adalah isi ‘Piagam Jakarta’ yang pada awalnya itu. Dan itu terlalu panjang untuk dijelaskan.

Kamu tidak tahu?’

Dia benar-benar tidak sabar sepertinya. Aku tidak tahu seberapa penting percakapan ini. ‘Karena Tuhan itu Esa yang artinya Satu.’

BenarBerarti bumi memang benarbenar bulat.’

Iya. Bumi memang bulat. Tapi jika ada perubahan teori juga tak masalah jika memang semua orang menerimanya. Apa kalau gak percaya bumi datar, bumi akan marah padaku lalu gravitasi tarikan antara medan magnet dalam diri ini di tolak oleh gravitasi bumi lalu aku melayang-layang? Anjay. Horor juga. Bayangin aja aku melayang-layang, terus nembus atmosfer lalu terbakar. Tuhan. Ampuni aku..

Teori bumi bulat, bumi datar, terus kata mas Arip ada teori bumi segitiga sama kaki. Hmm. Teori ya teori. Teori ini dan itu. Teori itu pendapat. Pendapat yang didukung oleh data-data dan argumen yang kuat. 

Kita harus bisa menerima berbagai pendapat. Mengkotak-kotakan ini kaum bumi datar dan ini kaum bumi bulat lalu mengajak tempur. Itu tidak menyelesaikan. Lagi pulanini bukan masalah. Semuanya masih damai-damai saja. Seenggaknya bisa jadi bahan tulisan kayak gini kan. Haha. Gak usah mengolok-olok bumi datar, bumi bulat, bumi segitiga sama kaki. Mari menerima padangan masing-masing.

Kalau dipikirpikir kenapa aku percaya bumi bulat itu karena NASA, Cho.’

Iya juga. Kalau gitu mari kembali pada Pancasila.’

Iya. Percakapan di sini memang tidak nyambung.

Tapi, Cho benar. Pancasila memang fundamen segalanya. Bumi itu satu. Sama kayak Tuhan. Tapi aku tidak sedang menuhankan bumi. Bumi adalah bumi. Kita boleh percaya bagaimana saja. Yang penting jangan terlalu mengada-ada yang gak ada seharusnya.

Keyakinan kaum bumi bulat dan bumi datar semuanya punya landasan. Itu semua tidak salah. Ini bukan masalah banyak-banyak orang. Berapa banyak yang percaya ini dan itu, lalu menginjak-injak yang lain, yang kecil. Ini bukan sortiran. Dimana buah kecil dikelompokkan yang kecil, dan yang besar ikut yang besar. Ini bukan jualan, ini bukan politik. 

Aku mengagumi NASA dan ini bukanlah tindakan berhala. Begitu juga kaum datar yang mengagumi teori kedatarannya. Gak ada pandangan yang salah. Termasuk pandangan tentang dua buah kertas bergambar Ngurah Rai yang berwarna biru dan satu buah kertas bergambar Soekarno Hatta. Mereka punya nilai yang sama. Jangan mencela.

 ‘Sebenarnya, jawaban palung dan gunung kemarin itu ada hubungannya dengan keesaan Tuhan.’

‘Kok bisa?’

‘Karena bumi itu hanya satu. Ini bukan masalah distribusi medan magnet gravitasi yang tidak merata. Tapi memang itu semua milik bumi.’

‘Jadi palung dan gunung bukan wujud ketidakadilan?’

‘Yup. Semua itu milik bumi. Apanya yang gak adil? Kalau ibarat kata Presiden Jancukers, sih, ini kayak perpindahan cincin dari jari satu ke jari lainnya. Semua sama aja. Cincin itu tetap milikmu. Palung dan gunung tidak akan saling mengolok dan menyalahkan. Begitu juga jari-jari yang iri satu sama lain. Karena semua milik yang satu.’

‘Benar juga. Lagi pula mereka tidak punya mulut.’

Siang semakin terik. Aku bersyukur karena bumi masih berotasi, beberapa menit panasnya akan membantu mengeringkan baju yang kucuci tadi. Redupnya saat sore akan mengantarkanku pulang ke kos tanpa menyipitkan mata. Semuanya punya porsi.

Bumi datar, bumi bulat, semua masih tentang bumi. Kita masih hidup di bumi. Ini tentang pandangan dan teori yang diyakini tentang bumi. Masih tentang bumi dan bumi yang sama. Kita masih satu bagian kok..

Iklan

15 thoughts on “(masih) Bumi Itu Bulat”

  1. Bolehlah bumi dibilang bulat seperti tahu. Tapi tak bisa digoreng dadakan… apalagi hanya dihargai 500. Ikut nimbrung OOT hehehe

  2. Jadi inget “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”

    Entah itu bulat, datar, atau berbentuk mangkok. Selama itu bumi dimana tempat kita tinggal didalamnya, wajib untuk selalu menjaga kelestariannya #komensokbijak 😁

    1. Di……………………..
      .
      .
      .
      .
      .
      Tengah-tengah hutan, di bawah langit biru, tenda terpasang ditiup sang bayu.. (sang bayu)..

      Ini lagu pramuka btw.. 😁😁😁

  3. Aduh….hari gini masih debatin bentuk bumi, capek dech…

    Smua pandangan benar? Wah, ini bikin capek lagi, πŸ˜‡πŸ˜‡

    Makanya, kalau suka mengusik pasti diusik, kalau suka menghina psti dihina, kalau suka nganggap diri paling bener, yang pasti dilawan…

    Gmna sih, orang udah pada je Mars, kita masih musingin ttg bumi..ckckck….
    *jngan2 komenku ini cuma asbun, πŸ˜‚πŸ˜‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s