Diary

Pecah.

Ku pikir mungkin aku sedang bercanda. Ku pikir itu lucu. Tapi tidak.

Pecahkan saja gelasnya, biar ramai.’

Tidak. Tidak seramai itu. Aku. Aku yang bingung.

Aku bilang aku lelah. Tapi aku tak tahu harus bilang pada siapa. Pada sini dan situ. Lalu apa? Tak ada. Tak ada perubahan. Aku tetap di sini, sama saja.

Ku bilang pada diri sendiri, jangan sembarangan curhat pada orang. Jangan menunjukkan air matamu pada orang sembarangan. Kau boleh begitu saja berlinang air mata untuk sebuah drama, tapi untuk kehidupanmu sendiri, jangan.. Beberapa orang bisa saja menganggapnya lucu dan membuatnya terlihat seperti lelucon. Ya. Aku tersinggung. Untuk orang yang berusaha terlihat selalu baik-baik saja dan kuat. Lelucon seperti itu sama sekali tidak lucu.

Aaarrghh..

Hari ini, aku benar-benar memecahkannya. Tapi tidak seramai itu. Aku juga tak berniat memecahkannya. Gila. Hanya orang gila yang sengaja memecahkannya. 

Aku tidak sengaja. Membuatnya jadi dua bagian. Tidak retak lagi, tapi patah. Benar-benar patah. Tak ada harapan lagi. Parahnya, itu hasil pinjaman orang. Aku pikir aku mengantuk, tapi tidak juga. Entahlah. Yang pasti, ini ceroboh.

Badmood merusak segalanya. Aku berpikir aku lelah dan dia tiba-tiba saja tertanam di kepala. Berat sekali. Rusak sekali. Seorang asisten kimia anorganikku pernah bilang, ‘Jangan masuk lab kalau kondisimu sedang rusak. Ini tentang jiwa dan ragamu.’ dan aku tetap masuk. Jika ini tentang memecahkan masalah, aku sudah sujud syukur. Tapi ini menambah masalah saja.

Ini masih tentang keberuntungan si kelinci A dan si ungu-ungu itu. Padahal aku sudah bilang, esok kan bahagia, aku bilang setelah postingan itu hubunganku dan kelinci A dan lab sebelah sana itu akan berakhir. Tapi ya, sepertinya rindu memang berat. Dia terus saja memanggilku. Tapi hari ini ku bilang, pertemuan dan perpisahan itu pasti, tapi kita punya kenangan dan kupikir itu sudah cukup berarti. Tak apa-apa selagi aku masih mengingatmu. Dan kuharap dia mengerti. Semoga kelinci A mengerti.

Tentu saja, Tuhan tidak jahat, aku yang terlalu hina. Sayangnya aku tidak sadar diri, dan terus mencari yang mana. Aku lupa, rasa lelah adalah sebagian dari perasaan tidak mensyukuri. Aku yang salah. Lalu aku harus apa? Jika ini tentang sepeda tak boleh kah aku bilang banku kempes, lalu menepi sebentar dan mencari pompa. Istirahat sebentar dan mengecek yang lainnya. Lalu bilang ke pengendara lainnya bahwa aku lelah dan ingin menepi minum es degan. Atau aku harus berjalan terus dan tahu-tahu rodanya hilang lalu aku harus selalu bersyukur? Apa mengeluh adalah sebuah kesalahan? T,T

Ya Tuhan.. Kacau. Maafkan. Aku memang benar-benar hina. Maafkan aku. Benar-benar kumohon maafkan aku telah berpikir yang tidak-tidak dan hina seperti itu..

Sudahlah, biarkan, ikhlaskan. 

Pecahkan saja gelasnya lagi, yang udah pecah itu, toh pecah dikit banyak tetap diganti, sekalian, biar puas, biar ramai..

Sumber gambar: webtoon ‘Flawless’

Iklan

14 thoughts on “Pecah.”

  1. Hahaha.. sabar…
    lelah bukan berarti putus asa bukan..
    kadang kita butuh berhenti sejenak untuk memikirkan langkah mana yang ahrus kita ambil, atau mungkin berhenti sejenak untuk minum es degan juga boleh, itu menyegarkan di tengah puasa 😀

    1. Haha. Iya. Lelah cuma butuh istirahat.
      Boleh juga minum es degan di siang hari pas panas-panas. Menyegarkan di saat bulan puasa. Lumayan, biar puasanya kuat sampek buka nanti Mas Nur.. 😂😂😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s