FIKSI

Ahimsa

Ahimsa artinya tidak menyakiti atau tidak membunuh. Mengajarkan kepada kita anti kekerasan dan saling mengasihi.

“Eh. Cho lihat. Anak itu menyiksa kucing sampek marah. Kurang ajar banget gak sih?” seruku sambil menunjuk anak kecil tidak sopan itu. Dia mengerjai kucing itu sambil menarik-narik ekornya hingga membuat kucing itu marah dan kesal. 

“Eh. Mana sih? Eh. Iya yak. Wah. Wah.” kata Cho setelah melihat pelaku utama dan korban yang hanya bisa mengeong. 

Cho mendatangi anak tersebut. Entahlah. Mulutnya berkomat-kamit banyak sekali. Semoga dia tidak sedang menyanyikan lagu ‘Mbah Dukun’ miliknya Alam. Aku cuma takut anak kecil itu disembur. 

Awalnya anak kecil itu masih ketawa-tawa mendengar ucapan Cho. Entah pada titik bagian mana dia lalu diam dan merasa menyesal. Titi akhirnya, anak itu pergi meninggalkan korban, si kucing. Cho kembali dengan wajah bangga. Anak itu memang sesongong itu.

“Apa yang kamu katakan?” tanyaku pada Cho.

“Aku bilang padanya tentang jangan menyakiti makhluk lain. Itu tidak baik. Dosa. Intinya seperti itulah.” jawab Cho.

“Oh.” responku hanya dengan sekali nafas. Cho kelihatannya kurang puas dengan responku. Mungkin kurang panjang. 

Tidak menyakiti makhluk lain adalah ajaran agama dimana semua agama juga mengajarkannya. Menjadi manusia dengan berbudi luhur dan berkelakuan baik, semua agama mengajarkan seperti itu. Dengan ganjaran dosa, manusia seperti dikontrol untuk menjadi manusia baik. Selain itu, iming-iming pahala juga menjadi pengontrol manusia untuk selalu taat pada ajaran agama.

Pahala ya. Aku bahkan ingat. Setelah sukses bertahan mau tetap sekolah waktu SD. Setelah lepas dari kontrol dukun karena gak mau sekolah. Aku bisa fokus menjawab pertanyaan dan menuntut ilmu dengan baik di SD. Tentang pahala, aku pernah menyangkut pautkan hal itu pada pelajaran yang bukan agama. Entahlah.

Begini pertanyaannya, ‘kenapa kita perlu membantu orang lain?’. Lalu dengan polosnya aku menjawab, ‘untuk memperoleh pahala.’ Saat itu aku diketawain Bapakku. Aku gak tahu titik lucunya dimana. Kemudian Bapak bilang kalau menolong atau membantu orang lain itu bertujuan untuk meringankan beban orang lain tersebut. Ini bukan hanya sekedar pahala.

“Kenapa kamu memilih kata dosa daripada kasihan Cho?” tanyaku pada Cho.

Tumben. Cho yang sok-sokan itu diam. 

“Karena menyakiti makhluk lain itu dosa?” jawab Cho ragu.

“Kata siapa?”

“Kata ajaran agama. Kita harus saling mengasihi bukan?”

“Oh.”

Benar. Ini semua karena ajaran agama. Agama berperan penting disemua sisi kehidupan kita. Agama pengatur semuanya. Itulah kenapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa ada di urutan pertama.

“Lalu apa itu manusia?” tanya Cho.

“Manusia adalah suatu organisme yang tersusun atas organ-organ dimana tersusun dari jaringan yang merupakan gabungan dari semua sel-sel.”

“Anjay.”

“Cho, apakah kita adalah monster yang dikendalikan oleh aturan-aturan agama?”

“Seharusnya bukan. Kita bukan monster, makhluk yang menakutkan. Kita manusia. Kita punya akal, kita punya budi. Aku seharusnya menyentuh anak tadi pada hati nuraninya sebelum memperkenalkannya dengan dosa-dosa.”

“Iya, Cho. Itu maksudku.”

Manusia adalah makhluk Tuhan yang dikaruniai akal dan budi. Cho benar, seharusnya anak tadi dia kenalkan dengan hati nuraninya dahulu, ‘kasihan’, dia juga makhluk hidup, kemudian baru mebicarakan tentang dosa-dosa.

Kita sebagai manusia seharusnya sudah punya naluri bahwa menyakiti orang lain atau makhluk lain adalah perbuatan tidak baik. Bahwa menolong orang lain adalah perbuatan baik. Tanpa perlu memikirkan pahala dan dosa terlalu berat hingga kita harus membuka ms. Excel karena terlalu berat untuk menghitunganya dengan kalkulator. Pahala dan dosa adalah urusan Tuhan. Tugas kita adalah menjadi manusia beriman dalam agamanya masing-masing.

Iklan

20 thoughts on “Ahimsa”

  1. Bener. Berbuat kebaikan bukan untuk pahala diri sendiri, tetapi karena kesadaran bahwa melakukan kebaikan adalah suatu hal yang perlu kita lakukan untuk membantu mahluk lain dan kebaikan seisi alam semesta. Pahala untyk diri kita sendiri hanyalah efek samping saja…

  2. Wah, senada dengan pikiranku. Aku sering bilang, “berbuat baiklah karena berbuat baik itu BAIK, bukan karena ingin pahala apalagi masuk sorga”
    Motivasi jauh lebih penting ketimbang yang lahiriah. Tuhan melihat hati, bukan rupa. Etika tertinggi menurutku: ETIKA MOTIVASI

  3. “Jika kau membantu karena mengharapkan imbalan, maka kau tidak berbuat suatu kebaikan, tetapi berbisnis”

    Semua pada nanya Cho itu siapa…aku nebak dia adalah teman khayalanmu…jangan-jangan, kamu…:))

      1. Konsep karma menurutku lebih “dewasa” ketimbang konsep pahala dan dosa.

        Apakah Cho adalah kependekkan dari Gery Chocolatoz? Mama mia lezatozzz….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s