FIKSI

Kawan Berlari

Ini tentang berlari, tapi bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai.

“Apa kau sepayah itu dalam berlari?” tanya Cho sekaligus meledekku yang sedang ngos-ngosan.

Sebenarnya tidak ada target untuk siapa yang lebih dulu sampai atau seberapa cepat berlari. Aku yang terlalu memaksakan diri mengimbangi orang itu. Hidungku sepertinya sudah besar untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Entah kenapa aku payah sekali untuk hal semacam ini.

Aku menemukan pantatku dengan aspal. Mempertemukan mereka dengan hati-hati. Mungkin mereka saling rindu. Biarlah mereka bertukar sapa dahulu. Mungkin beratnya napasku juga gara-gara mereka. Dasar. Kalau kangen ya ngomong.

Aku melihat Cho yang biasa-biasa saja. Tidak ada tekanan apapun. Tidak ada acara mangap-mangap buka mulut biar udara yang masuk makin banyak. Aku yang kebanyakan acara.

Anjay. Begitu santainya.

“Yuk lari lagi, gak usah dipaksakan.” ajak Cho. Terpaksa aku menyudahi temu kangen antara pantatku dan aspal. Memang. Rindu itu berat kamu nggak kuat. Mungkin itulah kalimat yang pantatku ucapkan pada aspal.  Dan aku si empu pantat terpaksa menanggung beban berat ini saat berlari. Sedih.

Aku diam saja dan langsung berdiri. Aku merasa energi yang akan gunakan untuk bicara akan mengurangi energiku untuk berlari. Kau tahu kan, energi tidak bisa diciptakan, dia hanya berpindah. Aku takut energi yang seharusnya bisa aku gunakan untuk berlari harus terbagi menjadi beberapa patah kata.

Kali ini. Aku benar-benar menikmati lariku. Santai. Tapi sepertinya bocah sampingku tidak sedang santai. Kurasa aku membuatnya bosan. Cita-citanya hari ini berlari, bukannya melangkahkan kaki yang seharusnya bisa dia gunakan untuk berjalan cepat.

Cho menemaniku. Memaksakan tempo langkah kakinya menyamaiku. Sepertinya itu mengganggunya. Apakah aku menghalangi langkah orang lain?

“Duluanlah Cho..”

Sial. Energiku untuk bicara mungkin terbagi dengan berlari dan naasnya kuping Cho tidak bersahabat kali ini. Apa yang kamu lakukan itu jahat kuping.

Aku berhenti. Langkahnya juga berhenti.

“Duluan aja. Nanti aku nyusul.”

“Gak mau.”

Aku memang gak bisa lari cepat. Nafasku pendek. Bagiku pelajaran olahraga dan temanya berlari adalah pelajaran paling lucknut. Tidak paling juga sih. Aku lebih benci dengan bola voli.

Bisa ditebak. Akulah manusia terakhir yang nyampek duluan waktu lari. Dengan muka udah hitam merah. Haha. Ya ampun. Hina banget.

Tapi dibalik itu semua aku selalu merenung di jalan. Merenungi harapan-harapan kosong di jalan seperti…

Mungkin gak yak aku nyampek gak terlalu akhir?”  GAK!

Aku pernah mencoba strategi untuk berangkat duluan. Jadi aku agak dibarisan awal berangkatnya. Aku sadar, diakhir nanti, mereka semua akan menyalipku. Ini strategi agar setidaknya, SEKALI SAJA, aku jangan tiba akhir-akhir banget. Tapi, negara api berkehendak lain, mereka tidak terima negara mereka disamaratakan dengan negara lainnya.

“Cieehh.. Suci dhek ngarep.”

Fak. Iya. Aku di fakultas MIPA. Aku goyah hanya dengan kata “Cieehh..” Dan endingnya tetap saja. Oke.

Mungkin gak yak aku bahagia walau nyampek terakhir tapi ada temen?” Hmmm..

Aku pernah hampir merasakan itu. Tipe kami sama. Suka ngos-ngosan. Emang sih. Bahagia. Haha. Seenggaknya gak sendirian. Apalagi tanpa paksaan. Tapi, aku terlalu santai di awal. Dia kuat di akhir. Tetep kok, endingnya ketinggalan. Wkwkwk. Anjay.

Tapi gak semuanya endingnya sedih kok..

Hingga pada suatu hari. Bukan. Ini temanku SMP. Saat itu aku berangkat duluan tapi gak awal, intinya sih lebih dulu daripada dia. Dia akhir, tapi langkahnya konsisten. Jadi dia menyusulku.

“Yang penting konsisten Suc… Yuk lah..” katanya memberi semangat.

Aku berjuang dengan temanku satunya. Sama-sama punya ukuran tubuh besar dan pantat pecinta tempat duduk, tapi punya cita-cita tubuh ideal. Anjay.

Baru kali itu, pelajaran olahraga lariku menyenangkan. Meski waktu gak ngos-ngosan aku duluan, endingnya dia nyusul. Hingga menjelang finis, aku dengan santai menyuruh dia duluan. Endingnya tetep aku yang terakhir kok. Tapi gak tahu kenapa sebahagia itu. Entahlah. Langkahku ringan, walau tetep aja terakhir. Catatan waktu dan urutan sampai cuma kaya “Oh.. Haha.”

Ada yang lebih berarti dari semua kata terakhir itu. Semangat dari orang-orang terkasih.

“Duluan aja Cho..” kataku sekali lagi.

“Gak mau.”

Cho tetap bergeming.

“Oke. Kamu aja yang duluan. Nanti aku nyusul.” tawar Cho memberikan solusi.

“Okay. Endingnya boleh sama. Cerita boleh beda dong..”

Aku pun berlari. Meninggalkan Cho yang bingung seorang diri. Ini akan tetap menjadi penantian walau aku yang duluan. Tapi upin ipin pernah memberitahu kalau kura-kura bisa nyampek duluan. Tapi, apakah pohon Jarjit masih mau mengipasi si kelinci? Melajulah kura-kura. Anjay. Haha.

Terima kasih.

.

.

.

Sumber gambar: webtoon “Flawless”

Iklan

21 thoughts on “Kawan Berlari”

  1. Saya juga paling malas berolah raga. Baru beberapa langkah udah ngos-ngosan. Memang diciptakan bukan sebagai pelari, jadi saya tidak akan sombong mencoba berlari wkwkw……

  2. dan pohon jarjit mengucapkan mantra.. tidurlaaahh… tiidurrlaahhhh…… tidurlah …. ehhh.. malah bangun kelincinya 🙂

  3. Betul…energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, dia hanya bisa berubah bentuk dari satu energi ke energi lain.
    Begitupun benci, tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, dia bisa berubah bentuk dari benci menjadi rindu, atau benci menjadi cinta…#hasseekkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s