Aku Anjing, Aku Bajingan

Kita mungkin lama-lama terbiasa dengan polesan. Ini seperti terkaget-kaget melihat pipi yang penuh jerawat. Lalu membandingkan dengan teller bank yang dempulnya tebal. Lalu berkata, orang sebaiknya menutupi jerawatnya, tidak baik mengumbar kebusukan.

Beberapa orang kemudian berlomba menutupi jerawatnya. Beberapa berusaha mengobati, tergantung berapa tebal uang yang kamu punya. Mungkin bukan tebal, uang receh pun tebal, melainkan nominalnya. Beberapa orang bersyukur karena tidak melewati fasa jerawat. Beberapa orang yang kita anggap mulus kadang tidak tahu diri dan malah mengatai.

Kita sebut hal baik adalah menutupi jerawat, tanpa tahu itu malah membuat pori-pori semakin tertutup dan menyiksa kulit. Tapi kita anggap itu benar. Beberapa orang tidak peduli dengan jerawatnya dan mengumbar. Kita anggap ini adalah suatu kelaknatan(?).

Dari tadi ngomongin jerawat, lalu dimana letak keanjingan ini?

Entahlah. Ngomong ngawur udah melekat pada diri ini.

Mungkin sebenarnya hampir dari kita semua yang menggonggong adalah sama. Kita anjing. Kita bajingan. Sebelum dari kita mencoba untuk jaim dan munafik.

Seperti melihat trending topik di twitter yang isinya gonggongan semua. Mereka sama-sama mengatai anjing tapi tidak satu pun diantara mereka mau disebut anjing. 

Gonggongan yang salah ia sebut kesalahan. Mereka berdalih manusia pernah salah. Tapi kalau yang salah orang lain, mereka ibaratkan gonggongan anjing. Anjing memang.

Mereka yang menyahuti gonggongan anjing mungkin malah anjing itu sendiri. Ini kusadari saat aku mendengar anjing yang gonggong malam hari. Mereka saling menyahut. Kompak memang. Tapi ya gitu, tetep aja anjing.

Tapi polesan juga perlu memang. Entah itu disebut jaim atau apa. Ini seperti mengecat plakat kemarin. Bambu harus dipoles dan diamplas berkali-kali. Entah ini pencitraan atau apa. Tulisannya harus bagus. Ini tentang sudut pandang orang lain. Ini harus menarik. 

Hah. Entahlah. Inilah contoh hasil tulisan kalau gak segera diselesaiin. L Simpan draft dan dilanjut, simpan lagi, lanjut, dst. Hingga lupa mau nulis apa sebenarnya. Wkwkwk. Acak adut..

Maapkan anjing ini.

Iklan

8 comments

  1. Kaget pas baca judulnya. Pas ngeliat foto Sujiwo Tejo, seketika terlintas kata “oh pantes…”
    Ngomong2 tentang kata, ini tulisan singkat yang paling banyak mengandung kata anjing, dari sekian banyak tulisan yang saya baca. Biarlah anjing menggonggong. Lebih baik kita menjadi kafilah yang baik, yang menunduk ketika lewat depan orang lain dan tersenyum menularkan ramah-tamah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s