Sesuatu

Kopi

Harapan itu seperti kopi. Tergantung bagaimana orang ingin meraciknya. Kenikmatan lidah orang berbeda-beda. Tak bisa dipaksa. Mereka punya cara masing-masing. Punya porsi masing-masing.

Minggu lalu aku menaruh harapan yang besar akan suatu hal. Aku tak melihat diriku sendiri. Apakah pantas? Apakah memang akan kunikmati? Apakah bisa?


Aku terlalu menaruh banyak air saat meracik kopi itu. Terlalu penuh. Air itu tumpah dan meluber kemana-mana. Bahkan alas gelas itupun juga ikut penuh. Sebegitukah imbasnya?

Aku hanya berpikir, jika aku menaruhnya berlebih mungkin aku bisa menikmatinya lebih banyak. Tapi apa? Ini benar-benar berlebihan. Mungkin.

Aku bahkan lupa menambahkan gula. Aku hanya berpikir, akan menikmatinya lebih lama, tanpa berpikir kenikmatan dari itu sendiri.

Apa yang bisa kuperbuat? Memandang kopi itu. Kopi yang sia-sia kata orang. Tapi mungkin beberapa orang bilang itu tidak sia-sia. Hanya saja kurang sempurna. Kamu bisa menambahkan gula setelahnya. Tapi mungkin tak senikmat awalnya.

Aku mengecewakan semua.
Mengecewakan gelas yang aku bahkan tak tahu kapasitasnya.
Mengecewakan gula yang ikut terlibat pada waktu yang bukan seharusnya.
Mengecewakan air yang semestinya bisa untuk yang lainnya.
Mengecewakan tatakan yang ikut kotor.
Mengecewakan sendok yang harus ikut campur dalam masalah ini.

“Apa yang baru saja aku lakukan?” Tanyaku pada diri sendiri.

Seseorang datang dari pintu sedang mencari sesuatu. Aku hanya diam memandang kopiku. Aku tak peduli. Tak bertanya dia butuh apa. Aku hanya berpikir akan kuapakan kopiku. Membuangnya? Benar-benar sia-sia aku membuatnya. Padahal aku hanya ingin menikmatinya lebih lama.

Seseorang itu lalu mengambil gelas kopiku yang tak karuan. Lalu meminumnya dengan cepat. Ada rasa lega tersirat diraut wajahnya.

“Ahh.. lega. Aku benar-benar haus..”

“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku. Dia diam sejenak memandang gelas itu.
“Apa kau menaruh racun di dalamnya?” Tanyanya.
“Tidak. Hanya saja mungkin rasanya seperti racun.” Jawabku.

“Benarkah?”
“Bukankah rasanya hambar seperti hubungan kita?”
“Entahlah. Aku tak terlalu merasakannya. Aku hanya menikmatinya.”

Hmmm.. kupikir dia tak sesia-sia itu.

Mungkin ini bukan bagaimana memikirkan kenikmatannya, tapi bagaimana menikmatinya. Baiklah..

Aku akan menikmati kopi yang kubuat nantinya. Bukan bagaimana kenikmatannya. Karena kenikmatan sesungguhnya adalah milik orang yamg menikmatinya.

Iklan

9 thoughts on “Kopi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s