Uncategorized

Terjebak Hujan

Oke. Sekarang aku di sini sedang menunggu air berhenti menetes tuk sementara. Yak. Aku terjebak hujan. Terjebak hujan itu seperti terjebak dalam ingatan masa lalu. Aku hanya bisa diam tak bergerak tak kemana-mana. Menunggu dia lewat entah sebentar atau lama.

Aku kadang merindukan hujan tapi kadang pula menghujatnya. Aku memang cukup tak tahu diri. Dia selalu jatuh seenaknya, kadang tak mengenal waktu. Menghantamku bertubi-tubi. Memang tak sakit. Tapi ini membekas. Kadang membuatku menggigil.

Basah.

Hujan di sini disponsori oleh awan yang menghitam kemudian memutih. Biasanya ini adalah pertanda bahwa hujan akan berlangsung lumayan memakan waktu. Aku hanya bisa diam. Lagi. Sambil melamun melihat tukang bakso panen dengan membawa banyak lembar uang. Memang enak makan bakso kalau hujan-hujan gini.

Kilat mulai menyambar-nyambar dan suara guntur menggelegar. Kalau diamati kecepatan cahaya itu lebih cepat daripada suara guntur itu sendiri. Aku melihatnya kilatnya terlebih dahulu lalu mendengar suaranya. Mungkin omongan-omongan busuk seseorang bisa segera tertutupi jika kita segera memperlihatkan cahaya kita. Toh kecepatan cahaya lebih cepat.

Mereka saling bersahutan dan seperti akan menyambar gedung-gedung kokoh tinggi nan angkuh itu. Tapi gedung itu tetap diam. Tenang. Iya sih. Kalau gerak pun aku yang takut. Malah para manusia kecil ini yang bingung kalang kabut. Ada yang ketakutan ada yang menyembunyikan ketakutannya. Ya itu aku. Aku pikir bukankah petir itu akan menyambar sesuatu yang tinggi terlebih dahulu. Saat itu otakku mungkin kurang berfungsi.

Mungkin seperti para petinggi di sana. Ketika ada kilat yang menyambar-nyambar mereka tenang saja. Karena apa? Mereka punya penangkal. Yak. Gedung di sekitarku itu punya penangkal petir. Setahun lalu aku pernah terjebak seperti ini juga. Saat itu aku sedang mengerjakan laporan. Terlalu santai karena berlindung di gedung yang tidak tinggi, aku pikir ini tidak terlalu menarik perhatian si gedung. Tapi entah pada menit ke berapa, mobil yang parkir di hutan MIPA bunyi semua saling bersahutan. Yak. Dia tersambar.

Lalu mulai saat itu, aku sedikit horor lewat jalan di situ ketika hujan. Mungkin tidak menarik perhatian si petir. Tapi dia tak punya pilihan lain. Semua yang tinggi punya tameng masing-masing. Mau gak mau dia menyerang yang itu. Mau gak mau dia yang di serang ya pasrah aja. Iyalah. Mau ngapain lagi.

Kebijakan petinggi di sana yang semena-mena mungkin tidak terlalu mempengaruhi mereka. Mereka punya tameng kuat. Tapi kilatan kebijakan seenak jidat itu bisa jadi menyerang kami yang gak penting dan tidak berpengaruh banyak.

Hujan lalu semakin deras. Banjir. Sedikit aneh emang. Tukang bakso itu mulai meninggalkan tempat. Dan aku mulai mengangkat kakiku ke kursi. Aku lalu agak mikir, sepertinya aku tetanggaan dengan jurusan yang bisa ngurusin masalah ini. Tapi kenapa wilayah sekecil ini bisa begini. Lalu aku dan temanku mulai membicarakan hal ini.

Kemudian kami diam. Sok-sokan nyalahin orang lain. Emang apa yang sudah kami lakukan. Entah tamparan darimana lalu kami tersadar. Kami belum ngapa-ngapain.

Hmmm.

Hujan ini mengajarkanku, mungkin kita bisa mulai berbuat sesuatu walau hanya setitik-titik kecil, tapi kalau intensitas tinggi, air yang di dapat juga banyak kok. Mungkin kita bisa turut membawa orang lain berkecimpung tapi dengan tidak menenggelamkan.

Yang dibutuhkan adalah semangat seperti panasnya matahari yang membuat air itu menguap. Kumpulan uap air itu lalu berkondensasi di otak untuk memikirkan langkah apa yang akan kita lakukan dan bagaimana. Lalu tekanan itu membuat air hujan itu turun dalam titik-titik air dengan intensitas yang kita mampu, dengan aksi nyata.

Biarkan petir menyambar-nyambar. Hidup tak ada cerita kalau tak ada suara. Meski kadang suara yang muncul tak selalu ingin kita dengar. Mungkin dibalik suara itu ada suatu peringatan untuk kita, bukan untuk menakuti, tapi untuk persiapan yang lebih baik.

Mungkin akan ada angin yang juga mulai menggoyahkan titik-titik air itu. Tapi selama kita teguh, ada hukum gravitasi yang selalu membuat air itu jatuh ke tanah. Entah arah air itu mau di bawa kemana dulu. Dia selalu kembali ke tempat yang seharusnya selama kita tetap berpendirian.

Mungkin akan ada saatnya matahari itu muncul dan membiaskan air itu. Membentuk warna yang indah. Pelangi. Warna-warnanya berdampingan. Ya. Kita tidak bisa sendiri melakukan hal ini sendirian.

Oke. Ini semakin tidak nyambung sepertinya. Sudahi saja sebelum semakin menggila. Hahaha.

Iklan

13 thoughts on “Terjebak Hujan”

  1. Waw… Mba suci ini keren yaa, ngelamunin hujan aja jadi postingan keren gini.
    Aku dong ngelamun paling banter Bok*r 😀

    Oya salam kenal yaa, makasi uda follow blog akuh, ini di follow balik yaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s